Tampilkan postingan dengan label DPT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DPT. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Juli 2011

Herbarium - Cara Membuatnya

Materi herbarium yang diambil harus bisa memenuhi tujuan pembuatan herbarium, yakni untuk identifikasi dan dokumentasi. Dalam pekerjaan dan identifikasi tumbuhan diperlukan ranting, daun, kuncup, kadang-kadang bunga dan buah, dalam satu kesatuan. Material herbarium yang lengkap mengandung ranting, daun muda dan tua, kuncup, bunga muda dan tua yang mekar, serta buah muda dan tua. Material bunga dan buah jauh lebih berharga dan bisa disebut herbarium fertile, sedangkan material herbarium tanpa bunga dan buah disebut herbarium steril.

Untuk keperluan dokumentasi ilmiah dianjurkan agar di buat material herbarium fertile dan untuk setiap nomor koleksi agar di buat beberapa spesimen duplikat (3 spesimen atau lebih per nomor koleksi). Material herbarium dari pohon berdiameter besar maupun kecil agar dipilih ranting yang berbunga dan berbuah. Apabila hal ini sulit dilakukan, cukup diambil ranting dengan daun-daun dan kuncup utuh dalan satu kesatuan. Material herbarium dari tumbuhan terna dan rumput-rumputan, batang dan akar harus di kumpulkan pula. Demikian pula halnya dengan bambu, material herbariumnya tidak hanya berupa ranting daun berbunga, tetapi ruas batang dan pelepahnya harus diletakan pula.

Material herbarium harus lengkap, perlu diperhatiakan pula pada saat pengambilan material herbarium haruslah dilakukan pula pencatatan data tumbuhanya, terutama karater/sifat yang akan hilang jika diawetkan. Material herbarium tanpa catatan tumbuhnya dianggap sangat tidak ada artinya. Pencatatan data tumbuhan dengan menggunakan buku catatan atau belangko isian/tally sheet.

Pengolahan dan Pengawetan

1. Di lokasi pengumpulan

Ada dua cara yang memungkinkan dalam pembuataan herbarium di lokasi pengumpulan, yaitu cara basah dan kering.

§ Cara basah

Setelah material herbarium diberi label gantung dan dirapikan kemudian dimasukkan dalam lipatan kertas koran. Satu lipatan kertas koran untuk satu spesimen. Tidak membenarkan melakukan beberapa spesimen di dalam satu lipatan kertas. Selanjutnya lipatan kertas koran berisi material herbarium tersebut di tumpuk dalam satu dengan yang lain. Tebal tumpukan disesuaikan dengan daya muat kantong plastik yang digunakan. Tumpukan tersebut dimasukkan ke dalam kantong plastik dan di siram alkohol 70% atau spritus hingga seluruh bagian tumpukan tersiram secara merata, kemudian kantong plastik ditutup dengan isolatip atau hekter supaya alkohol atau spritus tidak menguap keluar kantong.

§ Cara kering

Cara kering menggunakan dua proses, yaitu :

1. Pengeringan langsung, yakni kumpulan material herbarium yang tidak terlalu tebal dipres di dalam sasak, kemudian dikeringkan di atas tumpukan pengeringan dengan panas yang diatur atau di dalam oven (suhu 80o C selama 48 jam). Pengeringan harus segera dilakukan karena jika terlambat akan mengakibatkan material herbarium rontok daunnya dan cepat menjadi busuk.

2. Pengeringan bertahap, yakni material herbarium dicelup terlebih dahulu di dalam air mendidih sekitar tiga menit, kemudian dirapikan lalu dimasukkan ke dalam lipatan kertas koran. Selanjutnya ditumpuk dan dipres, dijemur atau dikeringkan di atas tungku pengeringan. Selama proses pengeringan material herbarium itu harus sering diperiksa dan di upayakan agar pengeringanya merata. Setelah kering material dirapikan kembali dan kertas koran bekas tadi digantikan dengan kertas yang baru. Kemudian material herbarium dapat dikemas untuk diidentifikasi.

Di tempat koleksi herbarium :

a. Material basah harus segera di keluarkan dari kantongan, kemudian dirapikan tumpukan dan bila perlu kertasnya di ganti dengan kertas baru. Selanjutnya, tumpukan material herbarium dipres dalam sasak, kemudian di masukkan ke dalam tungku pengeringan atau oven dengan suhu 800 C selama 48 jam.

b. Material yang sudah kering di identifikasi nama botaninya. Biasanya secara berturut-turut material tersebut termasuk suku apa,marga, dan jenis apa. Hasil identifikasi ini di tulis pada tabel identifikasi yang telah disiapkan. Dalam hal ini harus diperhatikan agar nomor seleksi yang di tulis pada tabel identifikasi sesuai dengan nomor koloksi pada tabel gantung.

c. Material herbarium yang telah di identifikasi kemudian di awetkan dengan cara sebagai berikut:

1. Material dicelupkan ke dalam larutan sublimat, yakni campuran alkohol 96% dan tepung sublimat dengan perbandingan 50 gr sublimat dalam 1 liter alkohol

2. Pada proses pengawetan ini dianjurkan agar digunakan sarung tangan dan kain kasah penutup hidung untuk menghindari cairan dan subklimat

3. Material yang sudah dicelup sekitar dua menit di dalam larutan subklimat dimasukkan ke dalam lipatan kertas koran, kemudian beberapa material ditumpuk menjadi satu dan ditaruh diantara dua sasak dan diikat kencang

4. Sasak yang berisi material tersebut dimasukkan ke dalam tungku pengeringan dan dijemur sampai material menjadi kering

5. Material yang telah kering ini siap untuk diproses lebih lanjut sebagai koleksi herbarium yang tahan terhadap serangan jamur dan hama

d. Material herbarium yang kering kemudian di plak atau ditempelkan dalam kertas gambar yang kaku dan telah disterilkan dan bersama dengan pengeplakkan di lakukan pula pemasangan label identifikasi yang telah di isi. Dalam hal ini, perlu diperhatikan agar tidak terjadi kesalahan pemasangan antar label identifikasi dengan nomor koleksi herbarium bersangkutan.

e. Material herbarium kering yang sudah dijiplak dan memiliki label identifikasi selanjutnya bisa di simpan di ruangan herbarium.

Kamis, 23 Juni 2011

Penyakit Parasitik Tumbuhan

Penyebab Parasitik Penyakit Tumbuhan :

1. Jamur

Adalah golongan organisme kecil, umumnya mikroskopis, yang tubuhnya vegetatif (struktur somatisnya) berupa talus, tidak mempunyai klorofil, tidak mempunyai berkas pengangkutan, mempunyai dinding sel yang mengangung khitin, selulosa atau kedua-duanya.

Struktur somatisnya biasanya berbentuk benang halus yang bercabang-cabang, mempunyai dinding yang tersusun dari khitin,, selulosa atau keduanya, dan mempunyai inti sejati (eukaryotic) yang biasanya dapat dilihat dengan mikroskop cahaya dengan mudah.

Umumnya tidak bergerak, tetapi beberapa anggota dari Phycomycetes yang rendah mempunyai sel yang dapat bergerak dengan pertolongan bulu cambuk (flagellum) dan tidak berdinding.

2. Bakteri

Sifat utama dari bakteri adalah

· Tubuhnya terdiri atas satu sel

· Berkembang biak dengan membelah diri, dalam 20 sampai 30 menit satu sel dapat menjadi dua

· Bentuk bulat (kokkus) ukuran 0,15 – 1 mikron, batang, bentuk spiral dan bentuk koma

· Ukurannya micron (hanya dapat dilihat dengan mikroskop)

Penyakit bakteri baru dikenal pada tahun 1878 – 1883 oleh Burrill. Yang pertama sekali menemukan bakteri di bawah mikroskop adalah Antony van Leewenhoek pada tahun 1683. beberapa ordo yang menjadi penyebab penyakit yaitu Eubacteriales dan Actinomycetales.

3. Virus

Arti kata virus telah berubah sejak kata tersebut digunakan sebagai agensia yang menyebabkan penyakit. Pada zaman romawi, virus berarti racun. Pada abad ke 19, virus diartikan sebagai the poisonous element by which infection is communicated atau secara sederhana diartikan sebagai mikropatogen.

Definisi virus yang lebih lengkap diajukan oleh Matthews (1992) yaitu virus adalah satu set dari satu atau lebih molekul genom berupa molekul RNA atau DNA, biasanya dibungkus oleh selubung pengaman berupa protein selubung (coat protein) atau lipoprotein dan hanya dapat memperbanyak diri dalam sel inang yang sesuai, dengan memanfaatkan metabolisme, materi, dan energi dari sel inang.

Gejala yang disebabkan virus biasanya seperti kerdil, mosaic, daun menggulung, khlorosis, keriting, pecah vertical dan ringspot.

4. Nematoda

Termasuk kingdom animalia. Nematoda adalah organis,e yang berbentuk seperti benang atau cacing kecil yang tidak bersegmen. Tidak semua anggota nematode parasit pada tumbuhan. Umumnya nematode yang parasit pada tumbuhan berukuran kecil. Antara 300 – 1000 m, tetapi ada juga yang berukuran kecil sukar dilihat dengan mata telanjang sehingga harus dilihat dengan mikroskop.

Umumnya nematoda pathogen tumbuhan bersifat parasit obligat dan mempunyai stilet. Nematode makan dengan cara menusukkan stilet pada sel tanaman, lalu mengisap cairan sel tanaman melalui stilet.

Pada Rotylenchus reniformasi, stilet tidak ditusukkan secara penuh karena dapat membentuk semacam kapak untuk makan (feeding peg).

Rabu, 13 April 2011

Herbisida

Herbisida (dari bahasa Inggris herbicide) adalah senyawa atau material yang disebarkan pada lahan pertanian untuk menekan atau memberantas tumbuhan yang menyebabkan penurunan hasil (gulma). Lahan pertanian biasanya ditanami sejenis atau dua jenis tanaman pertanian. Namun demikian tumbuhan lain juga dapat tumbuh di lahan tersebut. Karena kompetisi dalam mendapatkan hara di tanah, perolehan cahaya matahari, dan atau keluarnya substansi alelopatik, tumbuhan lain ini tidak diinginkan keberadaannya.

Dua tipe herbisida menurut aplikasinya

Terdapat dua tipe herbisida menurut aplikasinya: herbisida pratumbuh (preemergence herbicide) dan herbisida pascatumbuh (postemergence herbicide). Yang pertama disebarkan pada lahan setelah diolah namun sebelum benih ditebar (atau segera setelah benih ditebar). Biasanya herbisida jenis ini bersifat nonselektif, yang berarti membunuh semua tumbuhan yang ada. Yang kedua diberikan setelah benih memunculkan daun pertamanya. Herbisida jenis ini harus selektif, dalam arti tidak mengganggu tumbuhan pokoknya.

Herbisida bukanlah hanya suatu bahan kimia biasa. Tentunya dibalik itu semua ada efeknya masing-masing, yang dapat dibedakan berdasarkan keuntungan dan kerugian dari masing-masing tipe herbisida tersebut. Berikut ini kelebihan dan kekurangan daripada herbisida.

Kelebihan

· Relatif aman untuk tanaman-tanaman utama dalam situasi dimana kontak dengan solusi penyemprotan sangat sulit dihindari.

· Basta dapat mengontrol tanaman liar yang sulit dikontrol, apalagi apabila masalah tanaman liar ini terjadi karena penggunaan herbisida jenis onr secara terus menerus.

· Cocok untuk dipergunakan di lingkungan pertanian, karena aman bagi lingkungan.

· Cocok untuk persiapan pengaturan didaerah yang rawan erosi.

· Dapat secara mudah diaplikasikan menggunakan peralatan aplikasi yang sangat sedikit.

Kekurangan

· Terjadinya suksesi gulma

· Terjadi dominansi gulma yang resisten


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Enterprise Project Management